LPA

LPA Kota Malang Gelorakan Stop Human Trafficking

Klojen (malangkota.go.id) – Terus memerangi upaya eksploitasi dan perdagangan orang (human trafficking), Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Malang dengan tegas mendeklarasikan penolakan. Hal ini terpotret dalam giat Workshop Pembentukan Komunitas Program Pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang di Hotel Regents Parks, Rabu (27/12).

Workshop Pembentukan Komunitas Program Pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang

Ketua LPA Kota Malang Joko Nunang mengungkapkan kegiatan ini adalah untuk mengampanyekan perang terhadap perdagangan orang sehingga melalui deklarasi itu diharapkan di Kota Malang tidak terjadi lagi adanya perdagangan orang yang dampaknya sangat merugikan.

“Dari worksop ini kami juga berharap ada upaya bersama untuk mencegah perdagangan orang yang sangat merugikan dan semoga hasilnya bisa maksimal,” harap Joko, Rabu (27/12).

Workshop ini disebutkan Joko adalah sebagai tindak lanjut dari pembentukan relawan peduli terhadap pencegahan perdagangan orang yang sudah dilakukan di lima kelurahan di Kota Malang, yakni Kelurahan Polehan, Ketawangede, Sukoharjo, Bandungrejosari, dan kelurahan Kotalama.

“Ke depan kepedulian terhadap perdagangan orang tidak hanya sekedar wacana, namun Kota Malang sudah benar-benar melakukan aksi nyata,” tegas Joko.

Workshop kali ini menghadirkan segenap tokoh masyarakat, Babin Kamtibmas, Karang Taruna, Kader PKK, pakar hukum, serta tim ahli.

Terlebih saat ini Kota Malang merupakan pilot project di antara dua daerah di Jawa Timur. “Selain Kota Malang, Sidoarjo saat ini juga berproses seperti Kota Malang membentuk relawan peduli pencegahan perdagangan orang,” kata Joko.

Sementara itu Ciput Eka Purwiyanti dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI menambahkan saat ini tidak hanya masyarakat berpendidikan rendah saja yang sering menjadi korban perdagangan manusia. Seiring kemajuan teknologi masyarakat berpendidikan tinggi juga banyak yang menjadi korban.

“Biasanya korban diiming-imingi mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan tinggi dan gaji yang menggiurkan,” kata Ciput.

Diungkapkannya, selama ini banyak korban yang berasal dari Jawa Barat, biasanya terikat dengan kawin kontrak, ataupun dengan iming-iming pekerjaan legal seperti menjadi perawat. Tetapi daerah lain termasuk di  Jawa Timur harus tetap waspada sebab bukan tidak mungkin ke depan daerah ini juga menjadi sasaran. (cah/yon)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *